Festival Film Santri

124 Film Submisi dari seluruh Indonesia

Festival Film Santri adalah festival film di Indonesia yang fokus pada perkembangan sinema dan dunia Islam.

Gelaran perdana Festival Film Santri (FFS) 2025 mendapat sambutan luar biasa dari publik, komunitas film, hingga lingkungan pesantren di berbagai daerah. Hingga penutupan masa submisi, tercatat sebanyak 124 film telah masuk dan mendaftar untuk mengikuti Festival Film Santri 2025. Film-film tersebut berasal dari 11 provinsi, 41 kota, serta melibatkan sedikitnya 17 pondok pesantren dari seluruh Indonesia.

Capaian ini menjadi penanda penting bagi lahirnya ruang baru bagi sinema santri dan perfilman berbasis nilai-nilai kebudayaan Islam di Indonesia. Sebagai festival edisi perdana, antusiasme para peserta menunjukkan bahwa dunia pesantren, pelajar, dan sineas muda memiliki semangat besar untuk menjadikan film sebagai medium ekspresi, pembacaan realitas, sekaligus ruang dialog kebudayaan.

Festival Film Santri sendiri hadir sebagai ruang ekspresi sinema bernafaskan nilai-nilai Islam yang bertujuan memperkuat ekosistem perfilman pesantren serta menjembatani tradisi dan modernitas melalui bahasa sinema. Tahun ini, FFS mengusung tema “IQRA – Membaca Kehidupan, Membaca Perubahan”, sebuah ajakan untuk membaca ulang realitas dan perubahan zaman melalui karya-karya film.

Menariknya, sekitar 45% dari total film yang masuk merupakan karya santri dan pesantren. Hal ini memperlihatkan tumbuhnya kesadaran kreatif di lingkungan pesantren, sekaligus membuktikan bahwa santri memiliki perspektif dan pendekatan sinematik yang kuat dalam merespon isu sosial, kemanusiaan, budaya, hingga kehidupan spiritual sehari-hari.

Selanjutnya, seluruh film yang telah masuk akan melalui proses kurasi dan penjurian oleh dewan juri Festival Film Santri 2025 yang terdiri dari maestro sastra Indonesia Afrizal Malna, kritikus film Hikmat Darmawan, serta sutradara dan penulis skenario Danial Rifki. Proses kurasi ini akan memilih karya-karya terbaik yang dinilai memiliki kekuatan artistik, keberanian gagasan, serta kedalaman dalam membaca isu-isu sosial dan keislaman melalui medium film.

Festival Film Santri 2025 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi film semata, tetapi juga ruang kolektif bagi santri, sineas, dan masyarakat untuk saling bertukar gagasan, memperluas jejaring kreatif, serta membangun masa depan sinema pesantren yang lebih kuat dan berkelanjutan. Sebuah langkah awal yang menandai tumbuhnya ekosistem baru di persimpangan antara dunia santri, kebudayaan, dan sinema Indonesia.