Festival Film Santri

Statemen Direktur Festival

Bismillahirrohmanirrohim

Dalam lintasan sejarah kebudayaan Islam di Nusantara, pesantren bukan sekadar Lembaga pendidikan agama. Ia adalah ruang produksi pengetahuan, tempat tradisi, seni, dan spiritualitas bertemu dalam satu tarikan napas. Dari bilik-bilik santri lahir tafsir, hikmah, dan kisah yang membentuk wajah kebudayaan kita. Festival Film Santri hadir dari kesadaran akan kekayaan itu bahwa kebudayaan pesantren perlu menemukan medium baru untuk berbicara kepada zamannya.

Sinema menjadi salah satu jembatan antara tradisi dan modernitas. Melalui film, santri dapat menafsir ulang nilai-nilai Islam dan kearifan lokalnya dengan cara yang segar, kritis, sekaligus komunikatif. Perjalanan festival ini telah dimulai sejak tahun 2024 melalui rangkaian program Pra-Festival—di lima pesantren di Jawa Timur. Langkah awal ini tidak hanya membangun semangat kolaborasi antarpesantren, tetapi juga memperkenalkan kerja-kerja festival film kepada publik. Dari proses tersebut, tumbuh kesadaran bersama bahwa sinema dapat menjadi ruang dialog antara dunia pesantren dan masyarakat luas.

Tahun 2025, tema “Iqra!” kami angkat bukan semata ajakan membaca teks, tetapi membaca kehidupan. Membaca perubahan, membaca tantangan zaman, membaca kemanusiaan yang terus bergeser bentuknya. Dalam konteks pesantren maupun sinema, membaca adalah jalan menuju pemahaman. Maka, setiap film dalam festival ini adalah hasil dari pembacaan yang panjang: terhadap dunia, terhadap diri.

Kami percaya, masa depan sinema yang bernafaskan perspektif Islam di Indonesia tidak lahir dari industri semata, tetapi dari ruang-ruang belajar yang memadukan akal, rasa, dan adab. Karena itu, Festival Film Santri berupaya membangun ekosistem yang berkelanjutan—melalui kerja kolaboratif antar pesantren, praktisi film, sineas serta jejaring kreatif lintas komunitas. Di sinilah dakwah bertemu dengan daya cipta, dan berkarya menjadi bentuk pengabdian.

Ke depan, kami membayangkan festival ini tumbuh menjadi ruang kolektif pembacaan zaman: tempat di mana para santri, seniman, dan masyarakat bisa saling bertukar pandang, menafsir, dan menulis ulang masa depan kebudayaan Islam dengan bahasa sinema. Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari ikhtiar besar untuk mewujudkan cita-cita kami: Berdakwah, Berkarya, Berdaya.

Agoessam | Direktur Festival Film Santri