Festival Film Santri (FFS) 2025 resmi mengumumkan deretan film yang lolos tahap kurasi untuk program pemutaran dan kompetisi pada gelaran edisi perdananya. Dari total 124 film yang masuk dari berbagai daerah di Indonesia, terpilih sejumlah karya yang dinilai memiliki kekuatan artistik, keberanian gagasan, serta kedalaman dalam membaca isu sosial, budaya, kemanusiaan, dan nilai-nilai keislaman melalui medium sinema.
Proses kurasi dilakukan secara kolektif bersama para kurator Festival Film Santri 2025. Film-film terpilih kemudian dibagi ke dalam beberapa program pemutaran tematik yang menawarkan sudut pandang pembacaan berbeda terhadap kehidupan, spiritualitas, ruang publik, hingga relasi manusia dengan tradisi dan perubahan zaman.

Pada program “Melampaui yang Fana: Ode untuk Berita Kematian” kurasi Irfan Akbar, film-film seperti Lihat Kami, Tuhan, Kar, Liang, dan Bridges of Cosmologies menghadirkan refleksi tentang kehilangan, kematian, memori, serta hubungan manusia dengan spiritualitas dan kosmologi kehidupan. Program ini melihat kematian bukan sebagai akhir, tetapi sebagai ruang untuk membaca ulang makna hidup dan kemanusiaan.
Sementara itu, program “Mentahqiq Akar Wacana Keislaman dalam Sinema Kita” yang dikurasi Luqman Chamid menghadirkan film-film seperti Insya Allah Amanah, Kita Gali Sampai Mati, Yang Kita Tidak Tahu, dan Akar Pohon. Program ini mencoba mengajak publik membaca ulang praktik keberagamaan, kritik terhadap kultus figur, spiritualitas yang dangkal, hingga pentingnya pengabdian dan keikhlasan dalam kehidupan sosial maupun keagamaan.
Sedangkan program “Yang Politis dan Negosiatif: Ruang Publik sebagai Arena” kurasi Dhamar Gautama menampilkan film-film seperti Berdoa, Mulai, Baku Percaya, Mãe Menjaga Masjid, dan Saling Silang Sandal. Film-film dalam program ini membahas bagaimana identitas, agama, dan kehidupan sosial saling bernegosiasi di ruang publik modern, sekaligus menghadirkan refleksi tentang toleransi, relasi kuasa, dan kemanusiaan.

Festival Film Santri 2025 juga menghadirkan program Kompetisi Film Santri dan Pelajar yang menjadi ruang khusus bagi karya-karya santri muda dari berbagai pesantren di Indonesia. Film-film seperti Saling Silang Sandal, Akar Pohon, Gazeboan, Gerah, dan Ustadz YouTube menjadi bukti tumbuhnya semangat kreatif di lingkungan pesantren, dengan cerita-cerita yang dekat dengan keseharian santri namun dikemas melalui pendekatan sinematik yang segar dan reflektif.
Sebagai festival edisi perdana, FFS 2025 tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga membangun ruang dialog antara film, pesantren, dan masyarakat luas. Film-film yang lolos kurasi dipandang bukan sekadar karya audiovisual, melainkan hasil pembacaan para sineas terhadap realitas sosial dan spiritual yang terus berubah. Melalui karya-karya inilah Festival Film Santri berharap dapat membuka ruang perjumpaan baru antara sinema, pengetahuan, dan kebudayaan Islam di Indonesia

