Festival Film Santri

3 Film Terbaik Pemenang Festival Film Santri 2025

Festival Film Santri adalah festival film di Indonesia yang fokus pada perkembangan sinema dan dunia Islam.

Festival Film Santri (FFS) 2025 resmi mengumumkan para pemenang pada malam penghargaan yang menjadi puncak gelaran festival edisi perdana ini. Setelah melalui proses kurasi dan penjurian yang panjang, dewan juri akhirnya memilih sejumlah film terbaik yang dinilai memiliki kekuatan artistik, keberanian gagasan, serta kedalaman dalam membaca realitas sosial dan spiritual melalui medium sinema.

Untuk kategori Umum, penghargaan Film Terbaik diberikan kepada film Kita Gali Sampai Mati karya Muhammad Labib Pratama. Film ini dinilai berhasil menghadirkan pembacaan yang kritis terhadap praktik sosial dan keagamaan di masyarakat melalui pendekatan sinematik yang kuat, atmosfer yang intens, serta narasi yang reflektif. Film tersebut mengangkat kisah seorang penjaga makam yang hidup dari aktivitas para peziarah, sekaligus memperlihatkan bagaimana keyakinan, ekonomi, dan relasi kuasa saling bertaut dalam kehidupan masyarakat akar rumput.

Dewan juri menilai Kita Gali Sampai Mati mampu menghadirkan kritik sosial dan spiritual secara subtil namun menggugah. Film ini tidak sekadar berbicara tentang ritual dan kepercayaan, tetapi juga tentang manusia yang hidup di tengah harapan, ketakutan, dan kebutuhan ekonomi. Pendekatan visual serta penataan atmosfer dalam film dianggap berhasil membangun pengalaman sinematik yang kuat dan relevan dengan tema besar Festival Film Santri tahun ini: “IQRA – Membaca Kehidupan, Membaca Perubahan.”

Sementara itu, pada kategori Santri dan Pelajar, penghargaan Film Terbaik diraih oleh film Saling Silang Sandal karya Abu Yasid Ashari. Film ini berhasil mencuri perhatian juri melalui kesederhanaan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan santri sehari-hari, namun mampu diterjemahkan menjadi refleksi sosial yang lebih luas. Berangkat dari peristiwa hilangnya sandal di lingkungan pesantren, film ini berkembang menjadi pembacaan tentang ruang publik, kepanikan kolektif, hingga relasi antar individu dalam kehidupan komunal pesantren.

Juri menilai kekuatan utama Saling Silang Sandal terletak pada keberanian pendekatan sinematiknya yang minimalis namun efektif. Film ini mampu mengolah kejadian sederhana menjadi pengalaman visual yang segar, jenaka, sekaligus penuh makna. Selain itu, film ini juga dianggap berhasil menghadirkan wajah keseharian pesantren secara lebih manusiawi dan dekat dengan generasi muda.

Adapun penghargaan Jury Mention diberikan kepada film Gazeboan, sebuah karya yang mengangkat dinamika kehidupan santri putri di lingkungan pesantren melalui aktivitas sederhana saat bulan Ramadan. Film ini mendapatkan perhatian khusus dari dewan juri karena berhasil menangkap energi keseharian, solidaritas, dan strategi bertahan hidup santri dalam ruang yang sempit dan penuh keterbatasan.

Menurut dewan juri, Gazeboan memiliki kekuatan pada kedekatan observasi dan kejujuran dalam merekam kehidupan santri perempuan. Film ini dianggap mampu menghadirkan pengalaman yang akrab, ringan, namun tetap menyimpan lapisan sosial dan emosional yang kuat. Melalui pendekatan yang sederhana, Gazeboan memperlihatkan bahwa kehidupan sehari-hari di pesantren juga menyimpan banyak cerita yang penting untuk dibaca dan direkam melalui sinema.

Sebagai festival edisi perdana, Festival Film Santri 2025 berhasil menghadirkan karya-karya yang tidak hanya kuat secara artistik, tetapi juga menawarkan pembacaan baru terhadap kehidupan pesantren, masyarakat, dan perubahan zaman. Para pemenang tahun ini menjadi penanda bahwa sinema santri memiliki potensi besar untuk terus tumbuh sebagai bagian penting dari perkembangan perfilman Indonesia.