Festival Film Santri

Menerau Teladan dari Surau Pesantren Lirboyo

Festival Film Santri adalah festival film di Indonesia yang fokus pada perkembangan sinema dan dunia Islam.

Tersebutlah seorang yang begitu mencintai Islam bernama kecil Manab. Sejak usia 14 tahun, Manab remaja berkelana menimba ilmu Islam, dari surau ke surau, dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Sempat ia belajar selama 23 tahun kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Pada usia 40 tahun, Manab yang dikenal sebagai Kyai Manab belajar pada Hadratus Syaikh Hasim Asy’ari, di Tebuireng, Jombang.

Kyai Manab yang kemudian bergelar KH. Abdul Karim menikah dengan putri KH. Sholeh Banjarmelati, dan pindah ke sebuah desa yang dianggap angker dan wingit di wilayah Mojoroto, Kediri. Seperti laku ilmu yang dijalani semasa mudanya, di desa angker itu surau didirikan, lalu pengajaran Islam dilakukan. Desa itu mendapat nama Lirboyo yang berarti “selamat (lir/ner) dari bahaya (boyo)”.

Dari sebuah pesantren di jantung rimba yang menyeramkan, Lirboyo menjelma menjadi sebuah pesantren yang ramai hingga mampu menampung empat puluh ribu santri. Dari sebuah surau kecil, Lirboyo kini memiliki 15 pondok unit, serta 5 cabang pondok di pulau Jawa.

Di salah satu pondok unit Lirboyo, Pondok Pesantren Haji Yaqub (PPHY), langkah-langkah alih wahana khazanah pengetahuan dilakukan secara kolaboratif bersama Pondok Pesantren Haji Yaqub (PPHY), Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah, dan tim Festival Film Santri. Upaya alih wahana ini merupakan kerja-kerja membingkai pengetahuan melalui proses pengarsipan dan produksi film.

Memungut semangat KH. Abdul Karim yang mengubah sebuah wilayah yang dulunya dianggap sepi sunyi; upaya pengarsipan khazanah pengetahuan yang berdiam di pesantren-pesantren adalah sebuah jalan yang sepi dan sunyi, tetapi hasilnya nanti bisa secara luas dipetik dan dinikmati.