Pada sebuah pagi tahun 1924, seorang santri diutus Syaikhona Kholil Bangkalan untuk menyerahkan tongkat kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Pada pengujung tahun yang sama pula, santri yang sama juga diminta untuk mengantarkan tasbih ke tujuan yang sama. Tongkat dan tasbih itu adalah “isyarat langit” yang sudah ditunggu dua tahun lamanya untuk mendirikan sebuah jam’iyah yang kemudian menjadi organisasi islam terbesar di Indonesia.
Santri utusan Syaikhona Kholil itu bernama As’ad, atau yang kelak harum namanya dikenal sebagai KHR. As’ad Syamsul Arifin, generasi kedua pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Kisah tongkat dan tasbih itu terekam di pita kaset dalam sebuah ceramah Kyai As’ad. Belakangan, kesaksian Kyai As’ad di pita kaset itu juga dirangkum dalam sebuah buku yang mengisahkan awal mula berdirinya Nahdlatul Ulama.
Kisah kebajikan itu menjadi sebuah pesan berantai ketika Kyai As’ad kembali ke Situbondo. Jika dulu Kyai As’ad yang mengisahkan hikayat tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan, maka di masa-masa mendatang santri-santri Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang mengisahkan hikayat songkok dan benang Kyai As’ad.
Adalah perintah dari Kyai As’ad kepada santri-santrinya agar “membenangi” pesantren sebagai wasilah untuk melindungi pesantren dari gempuran Belanda saat kembali melalui agresi militer ke tanah air kita. Juga pesan untuk meletakkan songkoknya di dalam hutan agar Belanda keliru melancarkan serangan udara.
Hikayat-hikayat itu terus hidup dalam praktik keindonesiaan kita dan coba diteruskan dalam rupa-rupa dan “isyarat” lainnya. Tamsil atas kebijaksanaan itu yang coba dituturkan oleh santri Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang terdiri dari santri-santri Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Ibrahimy, S3TV, dan SMK Ibrahimy dalam Workshop Pengarsipan dan Produksi Film Festival Film Santri (4-6 Oktober 2024).
Jika kesaksian Kyai As’ad atas gurunya, Sang Syaikhona dan Hadratus Syaikh terekam di dalam kaset pita, kini giliran santri-santri Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang menyalin kisah-kisah sarat hikmah dan penuh kebajikan ke dalam sinema.

