“Ada tiga ayam,” ucap salah satu santri sembari menunjukkan gestur tangan isyarat angka dengan meyakinkan. Hening seisi ruangan, menunggu kelanjutan dan menerka maksud perkataan sang santri. Karena tak kunjung dilanjutkan, tawa meledak memenuhi ruangan. M. Firdaus Sholeh, santri yang memulai pembicaraan “tiga ayam” buru-buru membendung tawa yang kadung merembes ke luar ruangan karena saking nyaringnya.
Pasase “tiga ayam” yang tak utuh itu dilanjutkan oleh Firdaus. “Ada tiga ayam, saya ingin menangkap semuanya, tapi hanya bulu yang saya dapat. Lebih baik saya tangkap satu ayam, tapi dapat ayam seutuhnya, ya semua bagian dagingnya, jenggernya, cekernya, bulunya,” urai Firdaus. Kata-kata kiasan yang meluncur deras dari Firdaus saat berdiskusi tentang ide cerita yang bakal diproduksi menjadi sebuah film dalam program workshop pengarsipan dan produksi film yang diinisiasi oleh Festival Film Santri, bersemayam di benak saya dalam-dalam.
Kita mungkin sering membaca atau mendengar kiasan dan menganggapnya sepele; sebagai kata-kata picisan yang kita kunyah sambil lalu. Kemudian, pada momen-momen tertentu dalam hidup yang serba tergesa-gesa mengejar yang entah, kita kembali menengok kata-kata picisan itu, dan menyadari bahwa meskipun dalam bentuknya yang sederhana atau mungkin mentah, ia adalah kata-kata yang sudah lama diperas-diperam dan disulih menjadi sesuatu yang mengundang makna baru setiap kita mengingatnya.
Kiasan sederhana ini pula yang mengantarkan kita pada jembatan pemahaman tentang terbatasnya medium penceritaan, dalam konteks ini adalah film. Sebagai sebuah medium, film memiliki batasan-batasan formalnya. Memilih film sebagai medium penceritaan berarti memaksa kita untuk memahami film dengan segala keterbatasannya; tentang bagaimana suatu cerita, peristiwa, isu, dan gagasan dapat dihadirkan dalam durasi yang terbatas.
Alih-alih ingin memasukkan nyaris segala hal ke dalam film tapi hanya mendapatkan “bulunya” saja, seorang pembuat film harus memaksa diri untuk memilih hal-hal esensial yang harus dimasukkan ke dalam film. Dengan memaksa hanya “menangkap satu ayam”, siasat untuk menemukan gaya dan teknik penceritaan, pengadeganan, teknik pengambilan gambar, teknik produksi dll, yang mendukung ketersampaian pesan dalam film kepada publiknya menjadi lebih kuat.
Siasat ini yang dibutuhkan para santri ketika menyulih mutiara hikmah yang bertebaran di setiap sudut pesantren ke dalam film. Silang Saling Sandal (Abu Yasid Ashari, S3TV, PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo) membincang jukstaposisi sederhana antara disiplin santri sebagai laku keseharian dengan representasi kesilapan yang tanpa wajah, bisa dilakukan oleh siapa saja, dan terjadi di mana saja. Ide ceritanya sederhana dan kuat, menyajikan kehidupan santri tanpa pretensi, tanpa bumbu-bumbu stereotip yang kerap menghiasi wajah santri dan pesantren kita di layar-layar pemutaran arus utama.
Silang Saling Sandal tak menyuapi kita dengan petuah, hanya menunjukkan kehidupan santri di pondok pesantren sebagaimana mestinya. “Show them life and they’ll find within themselves the means to assess and appreciate it,” catat Andrei Tarkovsky dalam Sculpting in Time: Reflection on The Cinema. Film ini ringan saja membawa kita pada bentuk tertinggi apresiasi atas ilmu adalah melalui perilaku—yang mungkin, bisa saja tampak sepele. Satu-satunya hal sepele lainnya yang mengganggu dan mengurangi kekhusyukan menonton film ini adalah scoring di sekujur durasi yang tak perlu.
Meja Perpustakaan (Fatihin Husni, PP Sidogiri) lamat-lamat menghadirkan kembali kemasyhuran santri dalam melakukan penelusuran referensi secara rigourus dan rigid. Ketaatan dalam metode penelusuran referensi adalah bentuk kehati-hatian dalam merespon problema keseharian sesuai dengan tuntunan Islam. Praktik penelusuran referensi ini berkembang sejak dini melalui halaqah (tradisi diskusi di pesantren yang pesertanya duduk melingkar). Tradisi halaqah ini yang menjadi cikal forum-forum akbar seperti Bahtsul Masail yang membahas masalah-masalah sosial, kesehatan, politik, budaya, ekonomi, dan kenegaraan.

Kehati-hatian dalam metode keilmuan yang ditampilkan film ini memutus syak wasangka pada pesantren sekaligus kritik tajam terhadap model pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan modern yang justru kerap mengambil jalan pintas dengan dalih mixed method yang lebih mirip praktik sinkretisme utak-atik gathuk. Meja Perpustakaan cukup berhasil menyiasati pengadeganan di ruang-ruang sempit dengan membuat dialog antar tokoh yang serba sat-set, serta berani menyoal kontradiksi antara tradisional-modern, metodologis-non metodologis dengan cermat dan kocak.
Sarung (Sholikul Huda, PPHY Lirboyo) menawarkan kesegaran melalui identifikasi objek yang memiliki banyak fungsi dan makna. Gaya tuturnya mengingatkan kita kepada situasi komedi yang dikemas secara ringkas. Gaya tutur populer ala opera sabun mudah diikuti oleh penonton awam. Di saat yang sama model seperti ini membutuhkan scoring konyol yang sialnya juga bertebaran dan saling tumpang tindih dengan bunyi-bunyian slebor yang kerap kita dengarkan secara acak di media sosial.

Ketiga film ini, jika boleh diringkas, terkesan seperti kisah-kisah dalam sebuah hikayat: “Hikayat Sandal dan Sarung Santri” serta “Hikayat Meja dan Kitab”. Hikayat berasal dari kata Arab “haka” yang berarti cerita atau kenang-kenangan. Hikayat biasa dituturkan sebagai tarikh dan riwayat, cerita rakyat, dongeng-dongeng penumbuh semangat, atau sekadar prosa rekaan pelipur lara. Kisah-kisah yang terhimpun dalam hikayat masih bersemi di pesantren-pesantren sebagai mutiara hikmah yang bisa dipetik kapan saja dan disalin ke dalam medium baru sesuai dengan zamannya.

