Statemen Direktur Program
Edisi perdana Festival Film Santri yang digelar tahun ini merupakan hasil rangkaian kerja-kerja kolaboratif dan eksperimentatif yang telah dihimpun dari tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang 2024, program-program Pra-Festival Film Santri digagas dan direalisasikan Bersama lima pondok pesantren di Jawa Timur seperti Pondok Pesantren Sidogiri, Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, An Nur II, Syaikhona Kholil, dan Lirboyo.
Selama pelaksanaan program pra-festival; seperti workshop pengarsipan dan produksi film, workshop kritik, kuratorial, dan programming film, serta sinema santri keliling, kami menginsyafi bahwa ada ruang sela yang cukup lebar antara dua entitas yang mungkin selama ini dianggap tidak memiliki titik singgung: film dan santri.
Keberjarakan antara film dengan santri memang tidak sampai seperti sebuah hubungan yang antagonistik—kendati jika dua entitas ini berada pada ruang yang sama, tak jarang satu dengan yang lain seperti sama-sama berada nun jauh di sana; serupa simpul yang tak bertaut. Agaknya hal ini yang menjadi cikal bagaimana dua entitas ini, setidaknya di Indonesia, tidak cukup artikulatif ketika melakukan pembacaan antara yang satu dengan yang lain.
Keberjarakan ini yang melandasi kami memilih Iqra sebagai tema dalam gelaran perdana Festival Film Santri tahun ini. Iqra yang berarti “bacalah!” merupakan kata sekaligus perintah pertama di dalam Al Quran. Kata iqra berasal dari kata qara’a, yang dalam bentuk arkaisnya berarti “menghimpun”. Sesuai perkembangannya, kata tersebut memiliki arti yang lebih beragam, antara lain: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu.
Kami mencozba menganggit perintah ilahiah paling awal untuk manusia sebagai upaya menyambut kabar baik bahwa kita, manusia, sedari awal memang didesain untuk tidak pernah berhenti melakukan praktik pembacaan atas sesuatu; pendeknya, untuk terus belajar. Kabar baik itu pula yang coba kami terjemahkan ke dalam program-program yang harapannya mampu memangkas keberjarakan, menjadi titian muhibah antara film beserta ekosistemnya, dengan santri, dunia pesantren, dan publik; dengan saling berjumpa, saling membaca.
Dua entitas yang kami sematkan menjadi nama festival ini—film dan santri—bisa saling membaca ulang, mengeja identitas, memahami posisi dan peranannya, serta mengimajinasikan titik temu dalam ruang yang serba negosiatif. Dan tentu saja laiknya sebuah festival yang inklusif, program-program yang kami tawarkan juga terbuka untuk publik.
Program pemutaran utama dibagi menjadi lima; program pemutaran kompetisi dan non-kompetisi, serta program pemutaran spesial. Program pemutaran utama menyajikan film-film yang sudah dikurasi dengan baik oleh tiga kurator yang menawarkan hasil pembacaan film seturut dengan kepakaran dan konteks pembacaannya. Salah satu kurator Festival Film Santri edisi perdana ini adalah santri yang mengikuti workshop kuratorial pra-festival yang diselenggarakan pada 2024 lalu.
Yogi Ishabib | Direktur Program Festival FIlm Santri
